: :

Gara-Gara Orang Portugis Ini Tercipta Asal-Usul Tegal


Asal-usul Tegal
Asal-usul Tegal (Foto: Tegal Hidtory)

RADAR TEGAL – Salah satu wilayah yang memiliki sejarah dan peran bagi Indonesia adalah Tegal. Lokasi Kabupatennya yang berada di garis sepanjang jalur Pantai Utara atau terkenal dengan Pantura. 

 

Tegal juga memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, terutama di bidang pertanian sejak dahulu kala. Tidak hanya itu, di kawasan tlatah kabupaten Tegal mempunyai kemampuan sebagai wilayah agraris kaya sejak Mataram Kuno. 

 

Bukti adanya kemajuan di bidang agraris tercatat pada peninggalan sejarah berupa artefak kuno dan sbeuah candi di wilayah Pedagangan. 

 

Selain itu tlatah Tegal juga sering terkenal karena terkait dengan Kerajaan Pajang dan Mataram Islam. Kedua kerajaan ini cenderung dengan ciri mementingkan kemajuan pertaniannya. 

 

Berawal dari pedagang Portugis 

 

Kata Tegal merupakan sebuah nama yang berasal dari Tetegal dengan makna tanah subur yang baik untuk tanaman pertanian. Hal ini juga terdapat catatan sejarah saat sekitar tahun 1500-an.

 

Saat itu terdapat seorang pedagang yang berasal dari Portugis menyebut Tegal dengan Teteguali. Orang tersebut bernama Tome Pires yang bersinggah di Pelabuhan Tegal. 

 

Selain itu, asal-usul Kota Tegal juga mendapat pengaruh besar oleh seorang tokoh bernama Ki Gede Sebayu. Tanpanya, eksistensi Tegal bisa jadi tidak akan pernah ada. 

 

Ki Gede Sebayu merupakan seorang bangsawan yang masih keturunan Majapahit. Ia memutuskan untuk pergi ke arah barat hingga sampai di tepian sungai Gung. 

 

Kisah Pengembaraan Ki Gede Sebayu 

Awal mula Ki Gede Sebayu mengembara bermula dari peristiwa perang Kerajaan Jipang dengan Kerajaan Pajang yang pemimpinnya adalah Aryo Pangiri. Di sini Ki Gede Sebayu bergabung bersama Pangeran Benowo untuk menumpas dan menyingkirkan Arya Pangiri. 

 

Setelah Arya Pangiri menyerah, ia langsung diusir dari Kerajaan Pajang dan kekuasaannya jatuh ke tangan Pangeran Benowo. Setelah perang selesai, Ki Gede Sebayu melanjutkan meninggalkan tanah mataram dan pergi ke arah barat.

 

Dalam perjalanan, KGS tidak sendirian melainkan bersama para pengikutnya. Sebelum ia menuju tanah Tegal, ia pernah bersinggah di sebuah Desa bernama Taji yang lokasinya di wilayah Bagelan. 

 

Keesokan harinya ia bersama rombongan berangkat ke arah Purbalingga untuk berziarah ke makan ayahnya yang seorang mantan Adipati Purbalingga.

 

Setelah itu ia bersama rombongan melanjutkan perjalanan sampai menuju tepi sungai Gung. Saat sampai di sana, mereka bertemu dengan warga pesisir dan Ki Gede Wonokusuma yang menjadi tokoh sesepuh di daerah ini. 

 

Saat itu mereka saling bercerita dan Ki Gede Sebayu menceritakan sejarah keluarganya yang masih keturunan bangsawan dari Syech Sekar Delima. 

 

Sejak kecil yang mengasih Ki Gede Sebayu adalah KI Ageng Wunut, yang selama hidupnya ia abdikan untuk mempelajari agama islam. 

 

Setelah dewasa, KGS masuk ke dalam Keraton Pajang untuk menjadi Prajurit Tamtama. Dari sana KGS mendapatkan ilmu peperangan dan ilmu kanuragan. 

 

Ternyata Ki Gede Wonokusuma memiliki keturnan yang sama dengan Ki Gede Sebayu. Lalu setelah mendapatkan izin dari drai Womokusumo, KGS mulai membangun daerah tersebut. 

Mulai pembangunan 

 

Dalam proses membangun, Ki Gede Sebayu menempatkan para pengikutnya sesuai dengan bidang dan keahliannya masing-masing. Melalui kehadiran rombongan Ki Gede Sebayu, kemajuan desa mulai terasa oleh penduduk sekitar. 

 

Setelah itu Ki Gede Sebayu membangun masjid dan pesantren di desa sekitar. Saat meletus perang saudara di Kerajaan Pajang ia terdesak oleh kakeknya agar menyelamatkan kerajaan tersebut. 

 

Namun, KGS menolak hal itu karena tidak sanggup melihat penderitaan manusia akibat rebutan kekuasaan antar keluarga yang tidak pernah selesai. Akhirnya Ia juga melepas gelar bangsawannya dan memilih hidup dengan damai dengan tujuan mencari arti hidup. 

 

Terdapat banyak pembangunan di daerah Guci Tegal diprakarsai oleh Ki Gede Sebayu. Mulai dari lahan pertanian, pembangunan saluran irigasi, dan lainnya. Wilayah yang sebagian besar sawah tersebut akhirnya bernama Tegal. 

BACA JUGA: Mitos Seputar Gunung Maras di Bangka, Kalau Mau Mendaki Tidak Boleh Buang Tulang Ayam 

Itulah asal-usul kota Tegal yang pernah disebut namanya oleh seorang pedagang Portugis.***

Ikuti Kami di

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *